Select Page

“Dunia itu terkutuk dan terkutuk pula semua yang di dalamnya, kecuali dzikrullah (mengingat Allah) dan hal-hal yang berkaitan dengannya serta orang alim atau orang yang belajar (ilmu agama).”
(HR At Tabrani)

Majelis Addhiyaullami

Pimpinan Al Ustadz Al Habib Alwi bin Utsman bin Yahya

Mencintai dan Meladani Rosul adalah cara mendekatkan diri kepada Alloh SWT

Dewan Guru MR

Al Habib Alwi adalah salah seorang Dewan Guru di Majelis Rosululloh

Habib Alwi lahir di Jakarta

Beliau dekat dengan para ulama

Al Habib Alwi Bin Utsman Bin Yahya

Sejak usia dini Al Habib Alwi telah mendapatkan pendidikan agama dari orang tuanya, karena beliau tumbuh ditengah-tengah keluarga penda’wah yang mencintai ilmu dan ulama. Setelah usia 6 tahun beliau memulai pendidikan formalnya di Sekolah Dasar di daerah Kramat Jati  , Jakarta Timur. Saat menginjak kelas IV SD , beliau hijrah ke Sukabumi dan melanjutkan pendidikannya di sana hingga selesai tahun 1985.

Disamping pendidikan formal , beliau juga menimba ilmu agama di Madrasah As Sya’raniyyah. Setelah tamat di Sekolah Dasar , timbul keinginan yang kuat didalam diri beliau untuk menuntut ilmu agama seutuhnya. Dengan dukungan yang kuat dari orang tua beliau semakin membulatkan tekadnya .

Kemudian beliau melanjutkan pendidikan agama di Pondok Pesantren Darut Tauhid , Malang Jawa Timur , yang diasuh oleh As Syaikh Abdullah ‘Awwad Abdun , seorang alumunus Perguruan Islam Al Khairat Palu , yang mendapatkan perhatian lebih dari gurunya Al Habib Idrus bin Salim Al Jufri, pendiri Perguruan Islam terbesar di wilayah Indonesia bagian Timur. Syaikh Abdullah Abdun berguru pula kepada Al Habib Abdul Qadir Bilfaqih di Pondok Pesantren Darul Hadits Malang. Selama Al Habib Alwi belajar di Darut Tauhid , beliau menimba berbagai macam ilmu agama dari guru – guru setempat , diantaranya Al Habib Sholeh bin Ahmad Al Aydrus , Al Habib Muhammad bin Idrus Al Haddad , Al Habib Husein bin Sholeh Al Muhdhar , Al Habib Soleh bin Muchsin Al Habsyi , KH. Ihya ‘Ulumiddin, KH. Hasanudin Abdul Latif dan lain-lainnya.

Ketika masih duduk di kelas II Aliyah , timbul hasrat Al Habib Alwi untuk melanjutkan pendidikannya di Al Azhar Kairo Mesir. Namun cita-citanya kandas sebabkan meletusnya perang teluk saat itu. Tahun 1993 setelah lulus dari Darut Tahut Malang, beliau berniat melanjutkan studinya di Lembaga Pendidikan Bahasa Arab ( LPBA ) sekarang berganti nama dengan LIPIA. Tetapi keinginannya itu pupus kembali , disebabkan keterlambatan beliau untuk mengikuti ujian seleksi penerimaan siswa baru. Kegagalan demi kegagalan yang beliau alami tidak melemahkan semangatnya untuk menuntut ilmu. Jakarta – Sukabumi kembali beliau tempuh untuk menimba ilmu agama kepada KH. Abdullah Muhktar , Pengasuh Pondok Pesantren An Nizham , Panjalu Sukabumi , yang merupakan salah seorang murid dari Al Habib Syech Bin Salim Al Atthas.

Pada tahun 1993 Al Habib Umar bin Muhammad Bin Hafizh berkunjung ke Indonesia untuk pertama kalinya. Al Habib Utsman bin Yahya , ayahanda Al Habib Alwi ketika mengetahui kunjungan itu , segera mengajaknya untuk menghadiri salah satu rangkaian acara dari kunjungan tersebut, yang saat itu bertempat di kediaman Al Habib Umar bin Muchsin Mulachela. Ceramah yang disampaikan Al Habib Umar bin Hafizh sangat menyentuh hati sang ayah , hingga berlinang air matanya. Seusai acara sang ayah berkata kepada Al Habib Alwi : “ Ilmu yang disampaikan tadi adalah warisan salafus sholeh yang sudah langka , ini adalah peninggalan salafus sholeh yang sudah langka , berangkatlah wahai anakku “. Itu adalah kata-kata yang langsung meluncur dari sang ayah setelah menyaksikan dan mendengar ceramah langsung dari Al Habib Umar bin Hafizh. Kemudian Al Habib Alwi berangkat ke Tarim Hadramaut untuk berguru kepada Al Habib Umar bin Hafizh. Mungkin inilah hikmah dari dua keinginan beliau yang tidak terwujud untuk melanjutkan studinya ke Kairo Mesir dan LPBA.

Keberangkatan Al Habib Alwi ke Tarim , Hadramaut , Yaman Selatan pada tanggal 4 April 1994 bersama rombongan sekitar 25 orang, diantaranya Alm Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa , Al Habib Jindan Bin Novel Bin Jindan , Al Habib Qurays Baharun dan lainnya. Ini merupakan rombongan yang pertama dari Indonesia yang berguru kepada Al Habib Umar bin Hafidz. Setibanya rombongan di sana perang saudara antara Yaman Selatan dan Yaman Utara masih berlangsung. Karena Ma’had Darul Mustafa belum beridiri saat itu , maka Al Habib Umar bin Hafizh mengontrakkan sebuah rumah untuk para santrinya selama setahun, yang pada tahun berikutnya pindah ke kota pelabuhan Syihr. Kondisi saat itu sulit untuk mendapatkan makanan , dalam sehari semalam listrik berfungsi hanya 6 sampai 7 jam , bahkan merekapun harus rela tidur di lantai yang sebelumnya dibahasi dengan air , agar tidak terlalu panas saat tidur , karena suhu udara disana cukup tinggi  hingga mencapai 52° celcius panasnya.

Habib Alwi merasa sangat bersyukur kepada Allah SWT , karena telah diberi kesempatan berguru kepada Al Habib Umar bin Hafiz , beliau mendapatkan kenikmatan ruhaniyah yang luar biasa ketika belajar dihadapan guru gurunya disana , meskipun dengan sarana dan prasarana yang masih sangat minim. Disamping menuntut ilmu agama , para santri ditugaskan untuk melazimkan berbagai macam wiridan , menerapkan ilmu Tasawuf dalam kehidupan mereka , bukan hanya dalam bentuk kajian dan teori.

Di hari Jum’at merupakan hari libur , Al Habib Alwi dan para santri lainnya memanfaatkan waktu tersebut untuk berziarah ke Zanbal makam para aulia dan ulama , beliau tidak lupa untuk menziari makam kakeknya, yang nama beliau sendiri sama dengan nama sang kakek , yaitu Al Habib Awi bin Utsman bin Yahya yang lahir di Al Masilah , lalu hijrah ke Jakarta dan wafat di Al Masilah.

Selama di Tarim selain menimba ilmu kepada Al Habib Umar , para santri juga belajar kepada para ulama lainnya , diantaranya Al Habib Hasan bin Abdullah As Syatiri yang banyak mengajarkan kitab kitab Ilmu Fiqh dan Hadits. Diantara guru-guru beliau lainnya yaitu Al Habib Salim As Syatiri, Al Habib Ali Masyur bin Hafizh , Al Habib Mastur Al Aydrus, Syaikh Umar Khatib Ba’udan dan Al Habib Musa Kadzim Assegaf.

Pada bulan Agustus 1996 datang sepucuk surat dari sang ayah ,  isi kabar memberitakan keadaaanya yang sedang sakit dan meminta Al Habib Alwi agar kembali ke tanah air. Setelah mendapat izin dari Al Habib Umar , yang kemudian memakaikan Imamah di kepala beliau , maka Al Habib Alwi kembali ke Indonesia.  Setibanya di Indonesia Al Habib Alwi segera menemui sang ayah , melihat kedatangan putranya , sang ayah merangkulnya dan menangis haru, bukan hanya sekedar melepas rindu dengan sang anak , namun lebih dari segalanya , terutama karena sang ayah belum diberi kesempatan untuk berziarah ke makam ayahandanya di Al Masilah, walaupun pada masa kecil sang ayah pernah tinggal di Makah. Setelah berkumpul kembali dengan ayah tercinta kurang lebih tiga minggu , kemudian pada tanggal 26 Agustus 1996 sang ayah pulang ke Rahmatullah.

Setelah sang ayah wafat, Al Habib Alwi melanjutkan da’wahnya dengan mengajar di berbagai tempat dari majelis- majeis ta’lim yang sejak lama dibina oleh ayahnya . Di samping itu Al Habib Alwi banyak membuka dan mengajar di majelis-majelis ta’lim yang beliau sendiri merintisnya. Dengan kesibukan beliau mengajar Al Habib Alwi masih menyempatkan diri , menghadiri majelis Al Habib Abdurahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri , Jakarta Selatan dan Al Habib Abdul Qadir bin Muhammad Al Haddad Al Hawi Cililitan , Jakarta Timur.

Majelis-majelis yang dibinanya makin berkembang dan meluas di berbagai tempat di daerah Kramat Jati, Kebon Pala, Makasar , Ciracas , Kebon sirih. Bahkan da’wah beliau tidak hanya di Jakarta dan pulau Jawa , tetapi merambah ke pulau Ende, Nusa Tenggara Timur , Manado Sulawesi Selatan , Batam , Lampung , Kalimantan hingga Malaysia. Hal ini beliau lakukan demi memenuhi amanah sang guru mulia Al Habib Umar bin Hafiz kepada seluruh murid muridnya , agar tidak hanya terfokus pada kegiatan-kegiatan di majelis saja , tetapi mengembangkan da’wah di tempat-tempat lain.

Selain mengajar di berbagai Majelis dan berda’wah diberbagai tempat , beliau juga mendirikan sebuah majelis ta’lim , dzikir dan maulid , yang diberi nama Ad Dhiyau’ullami. Beliau menghimpun dan membina para pemuda didalam majelis tersebut , yang berfungsi sebagai wadah dan sarana untuk berkumpul semua murid-murid beliau , dalam rangka menghidupkan syi’ar-syi’ar agama dan berpartisipasi didalam kegiatan da’wah beliau.

Setelah mendapatkan restu dari Al Habib Umar Bin Hafiz , Al Habib Alwi mengajak para tokoh dari berbagai elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun sebuah Pondok Pesantren ( Ma’had ), guna mencetak generasi penerus da’wah Rasul SAW . Maka pada November 2013 mulailah pembangunan Pondok Pesantren, yang berada tepat di depan kediaman beliau. Sang guru mulia Al Habib Umar bin Hafidz memberikan nama pondok tersebut dengan nama Al Imdad.

Majelis Ta’lim Dzikir & Maulid Ad Dhiyaullami

Setelah kembalinya saya dari Tarim Hadramaut Yaman Selatan , sekitar tahun 1997 datanglah beberapa orang pemuda kepada saya , meminta saya untuk mengajarkan mereka Bahasa Arab. Mereka adalah Husni, Syarif Hidayatullah , Qadafi dan Ust. Juanda.

Maka mulailah saya mengajar Bahasa Arab kepada mereka pada hari Sabtu pagi. Seiring dengan berjalannya kegiatan tersebut , beberapa bulan kemudian tercetuslah ide saya , untuk mengenalkan kepada mereka Kitab Maulid Ad Dhiya’ullami , yang dikarang oleh guru saya Al Allamah Al Arif Billah Al Habib Umar Bin Muhammad Bin Salim Bin Hafiz. Maka setelah itu saya mengajarkannya kepada mereka dan kemudian kami membacanya setelah selesai Ta’lim Sabtu pagi. Hingga di setiap tempat saya mengajar saya memperkenalkan kepada jama’ah tentang Kitab Maulid Ad Dhiya’ullami karya guru mulia saya.


Alhamdulillah, dengan keberkahan Kitab Maulid Ad Dhiya’ullami yang menimbulkan rasa dan sejuk di hati para jama’ah di setiap tempat saya mengajar. Setahun kemudian setelah jama’ah mengenal , kemudian timbul rasa kecintaan di hati mereka akan Kitab Maulid Ad Dhiya’ullami , datanglah permintaan dari para jama’ah untuk dibacakan secara bersama-sama di Masjid, dengan tujuan memperkenalkan Maulid Ad Dhiya’ullami ke masyarakat luas secara umum.

Pada tahun 1998 atas persetujuan Pengurus Masjid Al Ihsan yang berlokasi di daerah Hek , Kramat Jati,  Jakarta Timur , bersama Almarhum Abuya KH. Muhammad Zein kami membaca Maulid Ad Dhiya’ullami yang pertama kalinya di depan publik secara berjama’ah.

Sejak pembacaan Maulid Ad Dhiya’ullami di Masjid Al Ihsan , kami membawa Maulid Ad Dhiya’ullami dari Mushalla ke Mushalla lainnya , dari Masjid ke Masjid lainnya , di sekitar wilayah Kecamatan Kramat Jati dan Makasar hingga meluas ke berbagai daerah , diantaranya di Subang , Rangkas Bitung , Pandeglang , Pekalongan , Surabaya dan lainnya.

Kemudian setelah berjalan setahun Maulid Ad Dhiya’ullami telah banyak dikenal oleh masyarakat , banyak jama’ah yang menanyakan tentang nama Majelis kami , maka saya menjawab , ” nama Majelis samakan saja dengan nama Maulidnya , yaitu Ad Dhiya’ullami “. Hingga sejak saat itu Majelis bernama ,  Majelis Ad Dhya’ullami.

Kegiatan Majelis Ad Diya’ullami berjalan sebanyak 2 kali dalam tiap bulannya, yaitu minggu pertama dan minggu ke tiga di hari Sabtu , hingga akhir tahun tahun 2008. Di tahun 2008 hingga akhir 2009 kegiatan majelis sempat vakum untuk sementara , karena kesibukan saya mengajar diberbagai tempat.

Tahun 2010 saya kembali mengaktifkan kegiatan Majelis Ad Dhiya’ullami , Majelis diadakan setiap minggu ketiga , hari Sabtu tiap bulannya. Sedangkan kegiatan untuk minggu pertama,  hari Selasa tiap bulannya, diisi dengan pembacaan Shalawat Burdah karya Imam Al Bushyiri. Untuk menyesuaikan semua jenis kegiatan da’wah kami , maka pada tahun 2010 saya melengkapi nama Majelis Ad Dhiya’ullami , menjadi Majelis Ta’lim , Dzikir & Maulid Ad Dhiya’ulami.

Majelis Ta’lim , Dzikir & Maulid Ad Dhiya’ulami , adalah merupakan bagian dari kegiatan da’wah kami , yang bertujuan agar kaum muslimin dan muslimat mencintai Allah SWT dan Rasul SAW , mengenalkan kepada mereka akan ajaran-ajaran mulia Nabi Muhammad SAW , perilaku Salafus Sholeh sebelum mereka , tentang adab dan akhlak perbuatan yang baik menurut Syariat Allah SWT, hingga akhirnya mereka mengenal dan peduli akan seruan agama yang di ridhai Allah SWT.

Pondok Pesantren / Mahad Al Imdad

Bismillahirahmanirrahim

Pada tahun 2012 saya berkunjung ke Tarim Hadramaut menjumpai guru mulia Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim Hafiz. Disana saya mengutarakan keinginan untuk membangun sebuah Ma’had (Pondok Pesantren). Mendengar niat dan cita-cita saya , beliau segera merestui lalu berdo’a  ﻳﻭﻓﻘﮭﻢ  ( semoga Allah memberikan taufiqNya kepada mereka yang akan belajar ).

Sekitar bulan Oktober 2013 , saya mengadakan musyawarah di rumah saya bersama para tokoh masyarakat dan beberapa pemuda dari Majelis Ad Dhiya’ullami , kalangan ulama dan tokoh masyarakat yang hadir saat itu adalah Ust.H.M. Yusuf Margani , H.M. Djaelani ketua RW 04 Kebon Pala , H. Winarman Ketua RT 012, H. Ma’in bin H. Saatun , H. Mu’min , H. Adi Presetya , dari kalangan pemuda hadir Ust. Husni , H. Rosyid , Andi Lesmana , Ahmad Kosasih , Chaerul Anwar dan Hasbiyallah.

Kemudian dari hasil Musyawarah yang telah disepakati, maka pada bulan November 2013 pembangunan Pondok Pesantren mulai dilaksanakan yang berada tepat di depan rumah saya.

Rencana guru mulia Al Habib Umar bin Hafiz akan mengunjungi lokasi Ma’had untuk peletakan batu pertama , namun karena padatnya jadwal beliau dalam rangka kunjungan da’wah ke Indonesia , maka guru mulia mewakilkannya kepada Al Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf ( Jeddah ) untuk peletakan batu pertama .

Selengkapnya disini

PonPes / Ma'had Al Imdad

 

Pondok Pesantren Al Imdad : Asuhan Al Habib Alwi bin Utsman bin Yahya